Kamis, 21 Februari 2013

Dendrobium sanguinolentum Lindl. 1842

 Dendrobium sanguinolentum Lindl. 1842 
Plant blooms from summer to fall with two to six 2.5 cm wide flowers. Plant is found growing in foothills and roadsides of Borneo at elevations of 0 to 900 meters Plant grows in warm to hot temperatures with medium amounts of light. Keep plant moist and fertilize during growth season. During winter reduce watering until new shoots appear. Grow in a well drain mix of sphagnum moss or medium fir bark. Scientific Classification Kingdom: Plantae Division: Magnoliophyta Class: Liliopsida Order: Asparagales Family:Orchidaceae Subfamily: Epidendroideae Tribe: Dendrobieae (red.http://orchids.wikia.com/foto.flens)


Bulbophyllum corolliferum J.J.Sm. 1917

 Bulbophyllum corolliferum J.J.Sm. 1917 
Found in the Philippines?, Thailand, Vietnam?, Malaysia, Sumatra, Borneo, India? and Singapore in the lowlands on mangroves as a miniature to small sized, hot growing epiphyte requiring light shade and high humidity. It has garlic shaped, shortly ovoid, irregularily 4 to 5 sided, truncate pseudobulbs with a single, apical, oblanceolate, obtuse and emarginate, tapered below to a shortly petiolate leaf that blooms in the fall on a basal, slender, reddish, 4.4 to 5.6" [11 to 14 cm cm] long inflorescence with several [8 to 10] flowers held in an umbel beneath the leaf. Often cited as Cirrhopetalum curtisii but I am going with Comber on this one and if Bulbophyllum is going to be used then B corolliferum has precedence. Synonyms Bulbophyllum curtisi [Hkr.f] J.J.Sm not Ridley 1912; Bulbophyllum curtisi var purpureum J.J.Sm. 1933; Cirrhopetalum curtisii Hkr.f 1927; Cirrhopetalum curtisii var. lutescens Garay 1999; Cirrhopetalum curtisii var. purpureum (Ridl.) Garay 1999; Phyllorkis ridleyana (Hook.f.) Kuntze 1891 (red.http://www.orchidspecies.com/foto.flens)


Minggu, 20 Januari 2013

Penangkaran Anggrek Raksasa

 

Grammatophyllum speciosum (Giant orchid) merupakan anggrek terbesar didunia, untuk pertama kali anggrek ini dideskripsikan oleh ahli taksonommi C.L. Blume pada tahun 1825. Nama Grammatophyllum berasal dari bahasa Yunani gramma yang artinya huruf dan phyllom yang artinya daun. Namun demikian anggrek raksasa ini oleh masyarakat pedalaman Kalimantan Tengah dikenal dengan sebutan anggrek tebu. Nama ini diberikan karena anggrek tersebut memiliki batang yang beruas seperti tanaman tebu. Anggrek raksasa dewasa dalam satu rumpunya bisa mencapai berat 2 ton dan panjang tangkai mencapai 3 meter dengan diameter sekitar 1.5 – 3 cm. Itu sebabnya disebut anggrek raksasa.
Anggrek raksasa memiliki anatomi yang khas, pertumbuhan batangnya menggerombol dan berhimpitan, serta bentuk perakaran yang tajam bagai duri. Daun menyerupai pandan yang menjuntai disisi kiri dan kanan, sedangkan batang bunga tegak lurus bisa mencapai 2 meter panjangnya. Ukuran bunga cukup besar daripada ukuran anggrek spesies pada umumnya, dan berwarna kuning serta bercak coklat dengan kelopak dan mahkota yang lebar. Bunga anggrek ini memiliki ketahanan yang cukup lama, ia bisa mekar mencapai 3 bulan dan tidak layu.
Dihabitatnya anggrek ini hidup secara epifit pada cabang pohon dihutan terbuka, akan tetapi juga sering dijumpai hidup dipermukaan tanah (terresterial). Anggrek raksasa memerlukan intensitas cahaya matahari yang tinggi. Ia biasa dijumpai tumbuh disela-sela batang pohon besar, disepanjang tepian sungai.(f2) 
 

Kamis, 19 Agustus 2010

MELACAK SICANTIK MODESTA


MELACAK SICANTIK MODESTA ;

Didunia tercatat ada sekitar 66 spesies keluarga anggrek bulan, lebih dari separuhnya berada di Indonesia terutama di Kalimantan. Melansir dari List of Endangered Plant dalam Indonesia Plant Biodefersity terdapat 70% lebih dikatagorikan langka berada  di Kalimantan khususnya pegunungan Meratus. Bahkan sebagian darinya sudah sulit diketemukan dihabitat aslinya, seperti ; Phalaenopsis cornucervi, P fimbriata, P fusculata, P maculata, P mariae, P modesta, P pantherina dan P zebrina yang kesemua itu masuk dalam katagori appendix II oleh Committee on International Trade in Endangered Species ( CITES ).

Ada beberapa jenis anggrek endemik Meratus yang saat ini sudah sangat sulit ditemukan dikawasan hutan pegunungan meratus, yaitu ; Phalaenopsis gigantea, Phalaenopsis belina, Phalaenopsis modesta dan Phalaenopsis amabilis pleihari. Ketiga jenis ini merupakan anggrek terpopuler yang sangat dicari oleh penggemar anggrek maupun penyilang anggrek dunia, karena keindahan dan eksotikanya, disamping itu memiliki keunggulan tersendiri untuk dijadikan bahan persilangan. Seperti halnya anggrek Phalaenopsis amabilis pleihari yang merupakan indukan silangan utama terbaik dunia untuk jenis anggrek bulan “.

Hilangnya beberapa kekayaan plasma nuftah endemik Indonesia, khususnya pegunungan Meratus Kalimantan selatan ini tentunya sangat memprihantikan. Perlu adanya upaya yang serius dan perbaikan dalam penanganan hutan hujan dinegeri, sebagai sumber plasma nuftah dan sebagai system penunjang kehidupan yang tak tergantikan. Pelestarian Anggrek Spesies harus terjaga dan dilakukan secara intensif dan terencana sejalan dengan UU No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, UU No. 5 tahun 1994 tentang Konvensi PBB tentang Konservasi Keanekaragaman Hayati dan PP No. 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.